VIVAnews – Di balik fungsinya sebagai bumbu dapur, bawang menyimpan manfaat untuk mengawetkan makanan secara alami. Beberapa komponen bawang memiliki sifat antioksidan dan antimikroba, sehingga memungkinkan untuk menggantikan sifat bahan pengawet kimia buatan.

“Antioksidan dan antimikroba bawang merah mentah baik untuk mengawetkan makanan,” ujar peneliti Jonathan Santas dari Departemen Nutrisi dan Bromatologi di Universitas Barcelona.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Internasional Ilmu dan Teknologi Pangan ini menunjukkan bahwa flavonoid dalam bawang, selain memiliki sifat menguntungkan bagi kesehatan, juga dapat meningkatkan daya tahan makanan.

“Bawang adalah alternatif alami untuk zat aditif buatan dalam industri makanan,” ia menerangkan seperti dikutip dari Times of India.

Berbagai varietas bawang merah dan bawang bombay menunjukkan hubungan antara antioksidan dan flavanoid. “Bawang efektif menunda oksidasi lipid dalam emulsi minyak dan air seperti pada margarin dan mayones. Bawang juga menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang mengubah makanan,” kata Santas.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa flavonoid bawang memiliki efek menguntungkan bagi kesehatan karena mengandung antioksidan, antiinflamasi, melindungi jantung, vasodilatory dan antikanker. (pet)

Kompas.com — Ingin sehat dan berumur panjang? Bergeraklah. Makin banyak seseorang melakukan gaya hidup sedentari yang berarti lebih banyak duduk, makin pendek usia mereka. Peringatan ini disampaikan para ahli setelah melakukan penelitian terhadap lebih dari 12.000 orang dewasa di Amerika.

Ini berarti kita memang harus terus aktif dan bergerak. “Pesan dari hasil penelitian ini adalah orang harus memahami bahwa semua hal yang dilakukan setiap hari memiliki konsekuensi. Bila pekerjaan mengharuskan Anda banyak duduk, tidak apa, tapi imbangi dengan aktivitas fisik yang mengeluarkan energi,” kata Dr Jay Brooks, ahli hematologi dan onkologi.

Manfaat menyehatkan dari kegiatan olahraga bagi orang yang kegemukan sudah lama didokumentasikan. Namun, efek dari kebiasaan terlalu banyak duduk kurang diungkap. Beberapa penelitian memang menunjukkan kaitan antara durasi duduk dan penyakit diabetes atau jantung. Namun, belum ada yang secara khusus melihat kaitan antara mortalitas dan kebiasaan terlalu lama duduk.

Dalam studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology, para ahli menganalisa jawaban kuesioner yang diisi oleh lebih dari 123.216 orang yang tidak punya riwayat penyakit. Mereka berpartisipasi dalam studi Cancer Prevention II. Para peneliti mengikuti kesehatan para responden selama 14 tahun sejak tahun 1993.

Selama kurun penelitian, mayoritas partisipan meninggal karena penyakit jantung daripada kanker. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor risiko, termasuk indeks massa tubuh dan merokok, wanita yang menghabiskan enam jam sehari untuk duduk memiliki risiko kematian 37 persen lebih tinggi dibandingkan dengan rekannya yang duduk tiga jam.

Secara umum diketahui orang-orang yang terlalu banyak duduk dan tidak pernah berolahraga memiliki risiko kematian lebih tinggi lagi, yakni 94 persen pada wanita dan 48 persen pada pria. Olahraga teratur, bahkan yang dilakukan sebentar, akan mengurangi risiko kematian akibat kebiasaan duduk lama.

“Semakin lama Anda duduk, makin sedikit energi yang dipakai. Hal ini lama-lama bisa menyebabkan kegemukan dan berpengaruh pada metabolisme,” kata Dr Alpa Patel, ahli epidemiologi dari American Cancer Society.

Ia menambahkan, otot tubuh, terutama otot kaki, jika jarang dipakai akan merangsang atau menekan beberapa hormon yang berpengaruh pada trigliserida, kolesterol yang berujung pada meningkatnya risiko penyakit